Bagikan Artikel

Belajar Membaca Dunia dari Anime yang Kita Tonton

Blog | 07 Apr 2026

Sebagian orang menganggap politik sebagai sesuatu yang jauh. Politik hanya ada dalam berita, gedung-gedung pemerintahan, atau sesekali terasa dekat dalam bentuk pemilu. Warga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan sosial terjebak dalam apa yang disebut Paulo Freire sebagai culture of silence: keadaan ketika mereka “ditenggelamkan” dalam situasi yang membuat kesadaran kritis hampir mustahil tumbuh. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena hidup mereka terus-menerus disita oleh kebutuhan bertahan. Di sisi lain, mereka yang relatif mapan kerap merasa hidupnya stabil dan netral, seolah persoalan politik adalah urusan orang lain. Dalam kerangka hegemoni seperti yang dijelaskan Antonio Gramsci, keadaan itu bukan kebetulan. Kekuasaan bekerja bukan hanya lewat paksaan, tetapi lewat pembentukan cara kita memahami dunia, membuat ketimpangan terasa wajar, dan politik tampak jauh dari keseharian (Crehan, 2016). Padahal, keputusan tentang kerja, upah, hukum, pendidikan, hingga ruang hidup sehari-hari selalu ditentukan oleh relasi kuasa.

Dalam kerangka hegemoni semacam itu, bukan hanya ekonomi dan hukum yang terasa “alami”. Bahkan ruang-ruang yang kita anggap netral pun ikut terbentuk oleh relasi kuasa. Salah satu yang paling jarang kita curigai adalah hiburan. Kita datang ke sana untuk beristirahat dari dunia, tanpa menyadari bahwa ia juga lahir dari dunia yang sama.

Bayangan bahwa hiburan itu netral membuat anime ikut diperakukan seolah jauh, atau bahkan terpisah, dari politik. Meskipun stereotip bahwa anime hanya untuk anak-anak mulai melemah, anggapan bahwa ia merupakan hiburan dan pelarian belaka masih kuat. Lagipula, bagaimana mungkin kisah-kisah absurd tentang alien, dewa, siluman, monster, atau hewan yang berbicara laiknya manusia memiliki keterkaitan dengan dunia nyata? 

Namun, segera setelah kita menonton anime, kita akan merasakan akrab dengan kisah-kisahnya. Di balik tokoh-tokoh dan dunia yang tampak absurd itu, banyak hal yang kita kenali. Ketidakadilan, penindasan, kekuasaan dan perlawanan atasnya, segala duka dan lara yang kita saksikan dalam kehidupan, menubuh dalam gambar dua dimensi. Kita tahu bahwa anime tidak sedang mengisahkan dunia ini secara harfiah, tetapi entah mengapa kita merasa bahwa anime benar-benar memahami perjuangan dan keresahan yang selama ini kita hadapi.

Rasa akrab itu bukan kebetulan. Dalam kajian cultural studiesStuart Hall menjelaskan bahwa media tidak pernah sekadar mencerminkan dunia. Ia menampilkan dunia dengan cara memberinya makna. Artinya, cerita bukanlah salinan realitas, melainkan cara tertentu untuk menyusun dan memahami realitas itu.

Anime, sebagai satu bentuk media visual, bekerja dengan cara yang sama. Kisah tentang ketidakadilan dan perlawanan di dalamnya bukan serta merta cermin langsung dari dunia ini. Meskipun terilhami dari peristiwa nyata, ia tetaplah fiksi. Namun, justru melalui fiksi itulah anime menawarkan kerangka untuk memaknai memaknai pengalaman: bagaimana mengenali penindas dan yang tertindas, bagaimana membaca relasi kuasa, bagaimana bertahan di bawah hidup yang berat. Dalam pengertian ini, anime politis bukan semata-mata karena ia dipengaruhi atau mempengaruhi dunia politik, melainkan karena ia memberi kita cara untuk memahami dunia dalam kerangka politis.

Contoh yang paling mudah dilihat bisa ditemukan pada karya-karya Hayao Miyazaki.Bersama rekan-rekannya di Studio Ghibli, ia menghasilkan berbagai film monumental yang bukan hanya laris dan penuh penghargaan, tetapi membentuk imajinasi budaya populer lintas generasi. Miyazaki sendiri dikenal sebagai mangaka dan direktur anime yang lantang menyuarakan aspirasi politisnya, termasuk melalui dunia yang ia bangung dalam karya-karyanya.

Salah satu filmnya, Spirited Away, menjadi film Ghibli yang paling berhasil secara komersial dan kerap disebut sebagai karya terbaiknya. Seperti film-film Miyazaki lainnya, Spirited Away sarat isu-isu sosiopolitis seperti kerusakan lingkungan, konsumerisme, dan dampak modernisme. Di balik seluruh lapisan simboliknya, ada satu tema yang sangat dekat dengan keseharian banyak orang, tetapi kerap luput dari pembacaan yang lebih mendalam: kerja.

Cerita Spirited Away berpusat pada seorang gadis berusia sepuluh tahun bernama Chihiro. Dalam perjalanan menuju rumah baru bersama ayah dan ibunya, mereka menemukan sebuah terowongan di ujung jalan di tengah hutan. Rasa penasaran mendorong mereka memasukinya, tanpa menyadari bahwa terowongan itu adalah batas antara dunia manusia dan arwah. Di tempat itu, tersaji beragam makanan yang tampak menggoda, meski tak ada satu pun manusia di sekitarnya. Tanpa banyak pikir, ayah dan ibunya mulai menyantap hidangan tersebut. Tanpa mereka sadari, makanan itu bukan untuk manusia, melainkan untuk para arwah yang datang berkunjung. Tak lama kemudian, keduanya berubah menjadi babi dan tak lagi bisa kembali ke dunia manusia. Dalam kekacauan itu, Chihiro menyadari bahwa ia pun telah terjebak di dunia asing tersebut. Sejak saat itu, ia tidak hanya harus menyelamatkan kedua orang tuanya, tetapi juga mencari cara untuk bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya.

Dalam situasi yang sepenuhnya asing dan berbahaya itu, satu-satunya cara bagi Chihiro untuk tetap bertahan adalah mendapatkan pekerjaan di pusat rekreasi arwah, yang dikuasai oleh seorang penyihir bernama Yubaba. Proses pencarian kerja ini tidak mudah dan penuh risiko. Ia harus melewati lorong-lorong sempit dan kumuh yang bisa membuatnya lenyap sewaktu-waktu, menghadapi makhluk-makhluk yang tidak segan mengusir atau menelannya. ”Lamaran kerja” Chihiro beberapa kali ditolak dengan alasan tidak ada lowongan. Setelah bersikeras memohon kerja, ia akhirnya diterima, meski dengan terpaksa, oleh Yubaba. Namun, penerimaan itu datang dengan syarat: Chihiro harus menandatangani kontrak kerja, yang mensyaratkan dia menyerahkan nama aslinya untuk Yubaba. Pengambilan nama asli ini perlahan menghapus ingatan Chihiro atas dirinya sendiri.

Kisah ini bukan sekadar petualangan fantasi. Salah satu hal yang mengilhami Spirited Away adalah fenomena pekerja anak-anak di berbagai belahan dunia. Dengan menggambarkan dunia kerja yang penuh risiko, terutama bagi anak-anak, film ini menjadi kritik terhadap praktik tersebut. Namun lebih jauh, dunia kerja dalam Spirited Away juga merepresentasikan kondisi kerja yang umum di bawah kapitalisme modern: penuh risiko, bergaji kecil, persaingan tidak sehat, serta ketimpangan antara pekerja dan pemodal. Seperti Chihiro, para pekerja dalam sistem semacam itu perlahan kehilangan diri dan identitasnya; kerja menjadi hal yang monoton, menyiksa, dan tanpa makna selain memperkaya para pemilik kuasa.

Di titik ini terlihat bagaimana anime selalu memiliki keterkaitan dengan dunia nyata. Para pembuatnya lahir dan hidup di dunia yang sama dengan kita. Namun, anime bukanlah cermin yang memantulkan dunia sebagaimana adanya. Ia merepresentasikan dunia. Melalui kisah dan tokohnya, anime menampilkan ulang kenyataan dengan sudut pandang tertentu, memberi pemirsanya cara-cara baru untuk memaknai pengalaman. Seperti Miyazaki yang mempersembahkan Spirited Away kepada anak-anak yang beruntung yang tidak harus bekerja di usia belia, film ini mengingatkan bahwa di luar pengalaman kita ada kenyataan berbeda yang tak selalu terlihat.

Kenyataan sendiri bukanlah sesuatu yang tunggal. Ia dialami setiap orang dengan cara yang berbeda. Anime pun dimaknai berbeda oleh setiap penontonnya, sesuai dengan latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Dalam proses itu, anime mengajak pemirsanya bersimpati kepada mereka yang menghidupi kenyataan berbeda dengan kita.

Karena itu, ketika seseorang menonton anime, ia tidak hanya mengonsumsi tontonan. Kita selalu membaca dan memahami kisah dengan pengalaman terbatas yang kita miliki. Menonton anime berarti kita berpartisipasi dalam pembentukan makna, menerima sudut pandang tertentu dalam melihat dunia. Tidak ada cerita yang benar-benar netral, ia selalu membawa sikap, dan secara halus membentuk cara penontonnya memahami kenyataan. 

Hal ini tidak hanya berlaku bagi anime. Setiap media, entah itu berita, iklan, sinetron, film, kampanye, hasil survei, dan berbagai bentuk pesan lain, lahir dari kepentingan dan sudut pandang tertentu. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membingkai cara kita memaknainya.

Jika melalui anime kita belajar mengenali ketidakadilan, membaca relasi kuasa, dan memahami bagaimana perlawanan digambarkan, maka kita juga sedang melatih diri untuk membaca dunia dengan lebih sadar. Kemampuan itu tidak berhenti di layar. Ia membantu kita melihat ketika ketimpangan dinormalisasi, ketika narasi dibungkus seolah-olah netral, dan ketika kekuasaan bekerja melalui bahasa dan simbol.

Menonton bisa tetap menjadi kesenangan. Tetapi menjadi penonton yang sadar berarti menyadari bahwa setiap cerita membentuk cara kita memahami dunia, dan bahwa kita selalu berada dalam posisi untuk memilih bagaimana membacanya.

 

--- 

Dwi Pratomo adalah penulis berlatar belakang filsafat yang gemar membaca anime dan manga bukan hanya sebagai hiburan, tapi sebagai cerita yang berkelindan dengan pengalaman hidup dan dunia sosial.

**Photo by Billow926 via Unsplash

Senandika Lainnya