Bagikan Artikel
Oleh Dwi Pratomo*
Hari ini, sekadar bertahan hidup saja rasanya sudah melelahkan. Biaya hidup terus naik, sementara jalan untuk memenuhinya justru kian sempit. Mencari kerja semakin sulit dengan syarat yang tak masuk akal. Mereka yang sudah bergaji pun hidupnya sering kali pas-pasan, dibayangi upah yang tak cukup dan ancaman pemecatan sepihak. Tuntutan sosial juga terus menekan, seolah semua orang seharusnya sudah berada di titik tertentu, padahal untuk membayar uang kontrakan bulanan saja banyak yang sudah megap-megap.
Dalam kenyatan semacam ini, rasa kecewa, marah, dan mauk jadi sesuatu yang wajar. Keluhan pun meluap di mana-mana: dalam obrolan selepas bekerja, di linimasa media sosial yang tak pernah kehabisan kabar buruk, mulai dari bencana alam, kelakuan pejabat yang malah memperparah keadaan, tentang kebijakan yang menyulitkan. Di saat yang sama, ada rasa takut yang ikut tumbuh. Kritik terasa makin berisiko. Mengeluarkan pendapat karena peduli bisa diganjar ancaman dan represi. Suara yang dulu dicari-cari kini terasa tak diinginkan. Di ujung hari, kita merasa lelah dan tak berdaya, tak tahu harus berbuat apa.
Kalau sudah begini, ”lari” jadi pilihan masuk akal. Sebagian dari kita menenggelamkan diri dengan berbagai hobi, bernaung dan menarik diri sejenak dari segala hal yang memusingkan. Entah mendatangi kolam pancing, memelihara burung, makan atau sekadar minum kopi di cafe viral, apapun yang bisa membuat kita sejenak melupakan kenyataan. Bagi wibu, ‘ruang lupa’ tersebut adalah kisah-kisah dalam anime dan manga.
Di dalam kisah anime dan manga, kita menemukan orang-orang kecil yang diterpa berbagai kesulitan berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka. Dunia yang timpang, aturan yang tidak adil, dan kekuasaan yang seolah mustahil dilawan. Tokoh-tokohnya kalah berkali-kali, jatuh, berdarah, tapi tetap maju. Mereka tidak diam. Mereka melawan, meski tahu peluangnya kecil. Saat menyaksikan itu, kita ikut marah, ikut berharap, ikut merasakan perlawanannya. Kita merasa terwakili. Bedanya, semua itu terjadi di tempat yang aman. Kita bisa merasa melawan tanpa harus menanggung risikonya. Tidak ada pentungan, tidak ada jerat hukum, tidak ada ancaman nyata.
Karena itulah anime menjadi tempat berlindung. Bukan untuk mencerminkan hidup kita apa adanya, tapi untuk memberi kita rasa bahwa perlawanan itu mungkin, setidaknya di layar. Untuk sejenak merasakan keberanian dan daya lawan, tanpa harus berhadapan langsung dengan dunia yang menekan.

Namun, keganjilan itu tidak bertahan lama. Pelan-pelan, maknanya terasa jelas. Bendera Topi Jerami dipakai karena ia mampu mewakili perasaan yang selama ini sulit diucapkan. Ia mengiyakan rasa kecewa, marah, dan lelah terhadap keadaan dunia nyata yang sedang kita jalani. Terlepas dari muasalnya yang fiktif, simbol ini langsung dipahami oleh banyak orang, menembus sekat-sekat komunitas, wilayah, usia, dan gender. Simbol yang berasal dari kisah sekumpulan orang dengan latar belakang berbeda namun disatukan oleh tujuan yang sama: kebebasan, keadilan, persaudaraan dan harapan akan dunia yang lebih baik.
Di titik itu, cerita berhenti sepenuhnya menjadi pelarian. Dunia fiksi yang selama ini kita datangi untuk berlindung tiba-tiba berdiri sejajar dengan dunia nyata. Seolah-olah kisah itu akhirnya berkata: ini bukan lagi sekadar cerita. Ini tentang hidup yang sedang kita jalani bersama. Lantas, kalau dunia yang kita hidupi sama bobroknya dengan yang ada di dalam cerita, kita, wibu, mau memposisikan diri seperti apa?
Selama ini, posisi penonton terasa cukup. Kita tahu cerita mana yang benar, siapa yang tertindas, dan siapa yang berkuasa. Tapi ketika simbol-simbol itu muncul di jalan, posisi itu terasa goyah. Tiba-tiba jelas bahwa menikmati kisah perlawanan tanpa pernah menanyakan posisi kita sendiri di dunia nyata bukanlah keadaan netral. Itu adalah keputusan untuk tetap berada di luar, ketika dunia sedang menuntut keberpihakan.
Di sinilah ilusi netralitas bekerja.
Hannah Arendt (1963) pernah menulis bahwa kejahatan sering kali tidak lahir dari niat jahat, melainkan dari kebiasaan untuk tidak berpikir dan tidak mengambil sikap. Dalam konteks ini, ketidakadilan tidak selalu bertahan karena semua orang mendukungnya, melainkan karena terlalu banyak orang memilih untuk merasa “tidak terlibat”. Netralitas, dalam situasi timpang, bukan keadaan kosong. Ia ikut menopang keadaan yang ada.
Gramsci menyebut ini sebagai hegemoni: ketika ketidakadilan terasa normal, wajar, dan tak terhindarkan, sehingga perlawanan tampak seperti sesuatu yang “berlebihan” (Crehan, 2016). Dalam kondisi seperti itu, menjadi penonton terasa aman. Tapi aman bukan berarti tidak berpihak.
Mengambil peran tentu tidak selalu berarti turun ke jalan. Terlibat dalam upaya melawan ketidakadilan tidak harus identik dengan megafon dan orasi di depan ratusan orang. Ada banyak cara yang lebih dekat dengan dunia wibu, cara-cara yang tumbuh dari kebiasaan kita sendiri.
Wibu punya satu kekuatan yang sering diremehkan: komunitas. Kita terbiasa berkumpul, berdiskusi, berdebat tafsir, dan merawat kegemaran bersama. Dari situlah sikap bisa tumbuh. Kadang dimulai dari obrolan sederhana: mengaitkan apa yang terjadi di manga atau anime yang kita cintai dengan apa yang sedang berlangsung di dunia nyata. Dari sana, kesadaran pelan-pelan terbentuk. Dan dari kesadaran, posisi mulai terlihat.
Keluar dari zona nyaman memang tidak mudah. Dunia layar terasa aman, akrab, dan bisa kita kendalikan. Dunia nyata jauh lebih kasar dan penuh risiko. Tapi sejak simbol-simbol itu berdiri di jalan, sulit lagi berpura-pura bahwa kisah perlawanan hanya milik fiksi.
Menjadi wibu tidak harus berarti terus menepi. Dan di hadapan ketidakadilan, tidak memilih posisi, pada akhirnya, juga sebuah pilihan.
---
Dwi Pratomo adalah penulis berlatar belakang filsafat yang gemar membaca anime dan manga bukan hanya sebagai hiburan, tapi sebagai cerita yang berkelindan dengan pengalaman hidup dan dunia sosial.
**Photo by Melvin Chavez on Unsplash