Bagikan Artikel
Saban hari meliput aksi penolakan warga Poco Leok terhadap proyek geothermal yang merampas dan merusak ruang hidup warga, utusan PLN menemui redaksi Floresa. Mereka datang untuk menawarkan kerja sama pemberitaan. Alih-alih menerimanya, Floresa menolak karena bertentangan dengan prinsip dan kebijakan editorial mereka.
“Tugas media tidak untuk mengamini klaim-klaim dari korporasi dan berdialog dengan kekuasaan,” ungkap Ryan Dagur, Pemimpin Umum sekaligus Editor Floresa.
Floresa sudah hafal betul kelakuan unit usaha plat merah, korporasi rakus, hingga pemerintah daerah yang lihai mendekati jurnalis dan media lokal. Mereka juga menggandeng lembaga akademik, organisasi masyarakat sipil, dan bahkan Gereja Katolik bukan untuk kepentingan publik, tapi untuk memuluskan kepentingan bisnis mereka di banyak tempat di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk proyek geothermal di Poco Leok, Kabupaten Manggarai.
Saat sejumlah media-media lokal di NTT memfabrikasi kebenaran versi perampas ruang hidup warga lewat berbagai medium pemberitaan, Floresa punya cara sendiri untuk bertahan di antara lumpur hisap disinformasi itu. Untuk mendukung perjuangan penolakan geothermal di Poco Leok misalnya, mereka memberi ruang selapang mungkin bagi warga untuk menceritakan perjuangan mereka secara langsung. Suara warga yang acap diabaikan itu kini terdengar jelas dan nyaring di setiap laporan Floresa.
Warga Poco Leok tak hanya hidup di dalam liputan Floresa. Perjuangan mereka juga kekal dalam dokumenter Sacrifice Geothermal? yang diproduksi Rumah Baca Aksara (RBA) dan Kawan Muda Poco Leok. Floresa kemudian mendukung penyebaran cerita itu lewat pemutaran publik, diskusi, bahkan sayembara resensi dokumenter.
Dedikasi Floresa terhadap perjuangan warga Poco Leok juga tak lepas dari peran orang muda dari lingkar akademik, yang saling mengorganisir untuk mengangkat suara warga. Mereka datang dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Misalnya, pada pemutaran Sacrifice Geothermal? pada Mei 2025, siswa SMAK St Ignatius Loyola Labuan Bajo menampilkan fragmen teater yang menceritakan perjuangan warga. Floresa juga menjalankan rubrik KoliterAksi, yang melibatkan murid SD Katolik di NTT, siswa SMK di Rahong Utara, serta berbagai komunitas seni dan literasi anak di Kabupaten Manggarai.
Lewat semua ini, suara Poco Leok tak hanya terdengar—tapi dirasakan, dibagikan, dan diwariskan kepada generasi muda. Ini merupakan upaya untuk memastikan perjuangan mereka tak mudah dilupakan. Kata Ryan, hal ini juga satu cara medianya untuk mendekatkan orang muda pada situasi yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya di Flores, di mana gelombang pembangunan dan proyek ekstraktif hanya berjarak selemparan dadu dari pintu rumah mereka.
Rumah Kopi Kebun Kota sebagai Panggung Pergerakan
Ingin menjadi bagian dari perjuangan warga, Floresa tidak hanya bekerja dari meja redaksi. Mereka juga membangun ruang nyata untuk berkumpul, berdiskusi, dan mengorganisir berbagai elemen masyarakat di Labuan Bajo. Inisiatif ini diwujudkan dalam Rumah Kopi Kebun Kota—sebuah kafe, perpustakaan, dan titik pertemuan komunitas yang menjadi pusat orkestrasi jaringan gerakan masyarakat sipil di Flores.
“Rumah Kopi Kebun Kota membuat kami bisa bertemu dengan lebih banyak elemen di Labuan Bajo. Menjadi tempat berkumpul warga sekaligus mitra Floresa di banyak isu. Jadi tempat menginap teman-teman gerakan. Dan jadi titik simpul pertemuan formal dan informal untuk mendiskusikan persoalan publik yang ada di Labuan Bajo,” urai Ryan.
Rumah Kopi Kebun Kota tak Floresa bangun sendiri. Sejumlah komunitas ikut mewujudkannya. Tim Sunspirit for Justice and Peace menyumbang kayu, meja bekas, dan tanaman untuk kafe. Sementara Rumah Baca Aksara membantu mendekorasi, menghias dinding dengan lukisan yang membuat ruang ini terasa hidup dan hangat.
Kafe ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi lokal. Kopi terbaik Flores dipasok langsung dari petani dengan harga adil, bahkan di atas pasaran. Madu, jahe kemasan, dan produk lain dibeli langsung dari warga Pulau Komodo dan Wae Sano. Dengan begitu, Floresa ikut melawan praktik ijon yang masih marak di Manggarai, sekaligus memastikan keuntungan sampai ke tangan komunitas lokal.
Tak hanya kopi dan pangan, Rumah Kopi Kebun Kota menyediakan perpustakaan mungil dengan buku dan literatur seputar isu Flores dan media. Di pojok lain, toko kecil menjual suvenir buatan komunitas lokal: patung komodo karya Komunitas Ata Modo, sabun organik dari Kawan Muda Poco Leok, hingga aksesoris rohani yang dibuat para suster peduli isu gender di Labuan Bajo dan Ruteng.
Di Rumah Kopi Kebun Kota, setiap sudutnya, dari kopi yang diseduh, buku yang dibaca, hingga produk yang dijual, menceritakan kolaborasi dan semangat memberdayakan masyarakat. Rumah Kopi Kebun Kota bukan sekadar kafe; ia menjadi ruang nyata di mana solidaritas, kreativitas, dan pergerakan masyarakat berpadu.
Selama lebih dari satu dekade, Floresa terus berdiri bersama warga, dari Poco Leok yang menolak proyek geothermal hingga masyarakat Labuan Bajo yang menentang daerahnya dijadikan destinasi 'Bali baru'. Liputan mereka yang tajam dan berpihak mendapat pengakuan, termasuk Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan MAW Talk Award atas kontribusi positifnya bagi ekosistem media lokal.
Penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan bukti bahwa media bisa menjadi kekuatan untuk mengangkat suara masyarakat yang sering diabaikan. Di Flores, di tengah gelombang pembangunan dan proyek ekstraktif yang selalu mengintai, Floresa membuktikan bahwa keberanian untuk berpihak bukan hanya soal idealisme jurnalistik, tapi juga wujud nyata solidaritas. Di tengah tekanan kekuasaan dan arus disinformasi, mereka menunjukkan satu hal: media yang berani dan berpihak bukan hanya melaporkan dunia, tetapi ikut membentuknya, bersama masyarakat yang mereka perjuangkan.
***
Floresa adalah media independen yang lahir di Labuan Bajo sejak 2014. Selama lebih dari satu dekade, Floresa berdiri di garis depan untuk mengawal pembangunan di Nusa Tenggara Timur, dengan fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan publik dan suara mereka yang terpinggirkan. Dukung jurnalisme independen di NTT dengan membaca karya mereka di https://floresa.co/
Baca kisah berani mereka Lainnya.