Bagikan Artikel
Pembangunan selalu datang dengan janji: investasi, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi. Tapi di Jawa Tengah, sepuluh tahun terakhir justru menyisakan cerita lain. Warga kehilangan tanah, buruh tetap hidup miskin meski pabrik berdiri di mana-mana, dan lingkungan rusak tanpa pernah benar-benar dipulihkan.
Lewat Hitam Pekat Hidup Warga di Jawa Tengah, LBH Semarang dan media lokal di Jawa Tengah merekam potret dua periode kepemimpinan Ganjar Pranowo sebagai gubernur, dari 2013 hingga 2023. Sebelas liputan mendalam dan satu laporan investigasi dalam publikasi ini menunjukkan pola yang berulang: kebijakan yang memudahkan bisnis berjalan, sementara rakyat menanggung biayanya. Upah ditekan agar investor datang. Lahan-lahan digusur untuk kawasan industri. Pesisir dibabat, tambang dibiarkan, aparat dikerahkan untuk mengamankan proyek.
Kurawal mempertemukan LBH dengan jurnalis lokal karena kami percaya: suara warga yang memperjuangkan keadilan harus diperkuat dan disebarluaskan, bukan diredam atau disembunyikan.
Ganjar memang tak terpilih sebagai presiden pada Februari 2024 lalu. Tapi rekam jejak kekuasaan tak bisa begitu saja dihapus dari ingatan. Karena, kami percaya, watak penguasa selalu meninggalkan jejak, dan rakyat berhak tahu siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dikorbankan.
Publikasi ini adalah ajakan untuk melihat lebih jernih dan berpihak lebih tegas: tentang pembangunan yang berjalan tanpa keberpihakan, dan tentang kekuasaan yang seharusnya diganjar dengan pertanggungjawaban, bukan dengan sanjungan.
Judul: Hitam Pekat Hidup Warga di Jawa Tengah
Kontributor: Aninda Putri K., Aris Mulyawan, Baihaqi Annizar, Heri C. Santoso, Iwan Arifianto, Jamal Abdun Nashr, M. Dafi Yusuf, Mariana. Ricky P.D., Praditya Wibisono, Ulil Albab A.
Editor: Fahri Salam, Luviana Ariyanti
Layout & Design Cover: Nukhan Dzu
Penerbit: LBH Semarang
Jumlah Halaman: 156 halaman
Tahun terbit: 2023 Bahasa: Indonesia